Sejalan dengan berjalannya waktu, pesantren kuno itu kini kawasannya dijadikan sebagai destinasi wisata religi khas Surabaya. Meski wilayah Ampel masyhur dikenal secara luas, namun pesantren di Sidosermo, khususnya Kampung Santri, Ndresmo Dalem, juga punya andil besar dalam proses Islamisasi di Surabaya lebih-lebih di Jawa Timur.
Sejarah panjang Kampung Santri Nderesmo
Sejarah Nderesmo Dalem dikenal sebagai Kampung santri tidak terlepas dari peran Sayyid Sulaiman Mojoagung. Tokoh penting peradaban Islam di Jawa Timur sekaligus pendiri Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan yang makamnya bisa kita temui di Bethek, Mojoagung, Jombang.
“Mbah Sayyid Sulaiman itu punya anak namanya Sayyid Ali Akbar. Beliau inilah yang babat alas di sini sebelum kawasan ini dikenal luas sebagai Sidosermo. Menurut cerita pendahulu, hutan itu dikenal dengan jin-jin ganas, sampai-sampai banyak pendatang yang lewat itu meninggal. Itulah alasan Sayyid Sulaiman waktu itu menghijrahkan Sayyid Ali Akbar,” urai Mas Hasan Muasak, pengurus Pesantren Al Haqiqi Al Falahi Joyonegoro.
Menurut penuturan Kiai Mas Hasan, putra Sayyid Sulaiman, Sayyid Ali Akbar dikenal sebagai pejuang kemerdekaan era kolonialisme Belanda. Bahkan termasuk salah satu tokoh yang ditakuti oleh pemerintahan Kolonial. Walaupun kala itu Belanda berhasil menangkap beliau dan hendak diasingkan, namun atas izin Allah, beliau berhasil lolos kembali ke Sidosermo.
“Beliau berhasil ditangkap waktu itu lantaran salah satu teman dekatnya hasud kemudian menjadi antek-antek Belanda guna memata-matai Mbah Sayyid Ali,” terangnya.
Dalam perjalanan dakwahnya di Sidosermo atau juga dikenal Sidoresmo, Sayyid Ali mendirikan sebuah pondok pesantren dengan beberapa santri. Hari terus berganti, pesantren tersebut akhirnya berisi dengan kegiatan ibadah dan mengaji. Namun setiap tidak ada kegiatan keagamaan, lima santri Sayyid Ali isi dengan kegiatan mengaji hingga larut malam.
“Setiap Mbah Ali Akbar melihat santrinya di malam hari itu ada 5 santri yang selalu melek (tidak tidur) dan nderes (mengaji). Akhirnya desa ini diberi nama Nderesmo singkatan dari ‘seng nderes wong limo’ (yang mengaji orang lima),” ujarnya.
Sayyid Ali akbar sendiri diberkahi anak diantaranya Sayyid Ghozali dan Sayyid Ibrahim yang pesarehannya berada di Pasuruan. Kemudian Sayyid Badruddin yang pesarehannya di Tugu Pahlawan dan Sayyid Kendar (Iskandar) di komplek pemakaman Sunan Bungkul. Terakhir Sayyid Ali Ashghor yang pesarehannya berada di Nderesmo (Sidosermo), sebagai penerus perjuangan Sayyid Ali Akbar.
“Penduduk Nderesmo (Dalem) itu ada yang dari garis keturunannya Mbah Sayyid Ghozali, Sayyid Ibrahim, Sayyid Badruddin dan Mbah Sayyid Sukendar (Iskandar). Mereka saling besan-besanan untuk kemudian mengembangkan dan melestarikan pondok pesantren di sini,” jelasnya.
Beberapa pondok pesantren yang terkenal di Sidosermo itu antara lain; Pondok Pesantren An Najiyah Timur dan PP An Najiyah Barat, Pesantren Al Badar, At Tauhid, Yanaabi'ul ulum, Sabilunnajah, As Syafi’iyah dan Pesantren As Syarif, serta masih banyak lagi. Termasuk diantara itu adalah Pondok Pesantren Al Haqiqi Al Falahi Joyonegoro.
“Semua itu yang mendirikan adalah anak-turunnya Mbah Kiai Ali Ashghor. Yang ada di kampung (Pesantren Nderesmo) Dalem ini masih sanak famili, saling ber-besanan. Walaupun sepanjang waktu berjalan kepala atau pengasuhnya berganti-ganti namun masih satu keturunan,” ujarnya.
•Syahroni
Your email address will not be published. Required fields are marked *